Kelurahan Kayumalue Pajeko pada masa lampau merupakan sebuah kerajaan kecil yang dihuni oleh
Suku Kaili sejak penjajahan Belanda. Kerajaan ini dahulu dikenal dengan nama
Kerajaan Kumbili pada abad ke-16, yang dipimpin oleh
To Ogelele (nama asli: Matende Lembah). Setelah kepemimpinan dilanjutkan
oleh putranya Sinombili, nama wilayah ini berubah menjadi Kayumalue.
Asal usul nama Kayumalue berasal dari istilah “Kana Nolue” yang berarti
“rambut Sinombili yang terurai ke depan”. Ada pula yang menafsirkan
“Kayu Nolue” yang berarti “kayu keras”. Kata Malue bermakna
“tidak mau tunduk”. Bahasa yang digunakan masyarakat adalah Bahasa Kaili Doi.
Mata pencaharian masyarakat saat itu adalah bertani, berkebun, dan beternak.
Istilah Pajeko berasal dari kata bajeko, yaitu alat untuk membajak sawah.
Pada abad ke-16, nama Pajeko mulai digunakan setelah terjadinya perselisihan antara Raja Gowa
dan To Ogelele.
Pada tahun 1903, Kayumalue ditetapkan sebagai desa. Pada akhir tahun
1930, Desa Kayumalue dimekarkan menjadi dua desa: Kayumalue Pajeko dan
Kayumalue Ngapa. Pada periode 1948–1964, kedua desa tersebut kembali digabung,
sebelum akhirnya pada tahun 1965 dipisahkan kembali dan menjadi dua desa
hingga saat ini.
Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1994 tentang Pembentukan Kota Madya Palu, serta
PP No. 5 Tahun 1980 tentang peningkatan status desa menjadi kelurahan,
dan melalui SK Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 141/3522/RO, Desa Kayumalue Pajeko
resmi berubah menjadi Kelurahan Kayumalue Pajeko.